Cara Menjadi Bahagia Menurut Bertrand Russell: Mengelola Kecemasan, Iri, dan Kehidupan
![]() |
| Cara Menjadi Bahagia Menurut Bertrand Russell: Mengelola Kecemasan, Iri, dan Kehidupan |
BLOGSIA - Kebahagiaan ternyata bukan sesuatu yang bisa diperoleh hanya dengan mengejarnya. Semakin seseorang memaksa dirinya untuk selalu bahagia, semakin besar kemungkinan ia justru terjebak dalam kecemasan, perbandingan sosial, rasa bersalah, dan ketakutan terhadap penilaian orang lain.
Filsuf dan matematikawan Inggris, Bertrand Russell, dalam pemikirannya tentang kebahagiaan menjelaskan bahwa hidup yang bahagia membutuhkan proses.
Ada kebiasaan yang perlu dikurangi, ada cara berpikir yang harus diperbaiki, dan ada keseimbangan antara bekerja, beristirahat, mencintai, serta menerima hal-hal yang berada di luar kendali.
Lantas, bagaimana cara menjadi bahagia menurut Bertrand Russell?
Orang yang sedang berada di titik terendah, mengalami tekanan berat, atau merasa hidupnya berantakan tentu tidak bisa langsung berubah menjadi bahagia hanya karena memutuskan untuk bahagia.
Kebahagiaan merupakan emosi yang dinamis. Ia dipengaruhi oleh kondisi dari dalam diri sekaligus keadaan di luar diri.
Russell berpandangan bahwa kebahagiaan tidak dapat dicapai secara langsung hanya dengan mencarinya. Ada hal-hal yang harus disingkirkan terlebih dahulu dan ada kondisi tertentu yang perlu dibangun.
Karena itu, bahagia membutuhkan proses dan usaha.
Hal ini juga dapat dikaitkan dengan konsep istikamah. Konsistensi dalam melakukan kebaikan pada dasarnya merupakan perjuangan melawan kebosanan. Seseorang tidak selalu memiliki motivasi yang sama setiap hari, tetapi tetap melangkah meskipun perasaan sedang tidak mendukung.
Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah kecemasan.
Manusia sering menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Masa depan dipenuhi kemungkinan buruk, sementara masalah kecil sehari-hari diperlakukan seolah-olah sama seriusnya dengan persoalan besar.
Padahal, setelah masalah tersebut dilewati, sering kali baru disadari bahwa kecemasan yang sebelumnya terasa sangat besar ternyata tidak terlalu penting.
Orang bijaksana, menurut Russell, mengetahui kapan harus berpikir dan kapan harus berhenti berpikir.
Berpikir tentu diperlukan jika ada tujuan yang jelas. Namun, ketika masalah tidak dapat diselesaikan saat itu juga, terus memikirkannya justru menguras energi.
Malam hari, misalnya, seharusnya digunakan untuk tidur. Pekerjaan memang penting, tetapi istirahat juga merupakan bagian penting dari kehidupan.
Hidup membutuhkan keseimbangan: ada waktu untuk beribadah, bekerja, belajar, berkumpul dengan keluarga, dan ada waktu untuk mengerem.
Salah satu penyebab ketidakbahagiaan yang sering tidak disadari adalah rasa iri.
Menginginkan keberhasilan orang lain sebenarnya tidak selalu berarti iri. Jika keberhasilan seseorang justru membuat kita termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri, perasaan tersebut lebih tepat disebut sebagai dorongan atau tantangan.
Iri muncul ketika seseorang tidak rela melihat orang lain sukses, kaya, hebat, atau bahagia.
Fokusnya bukan lagi bagaimana memperbaiki diri, tetapi bagaimana membuat orang lain kehilangan keberuntungannya.
Dengki atau hasad bahkan lebih jauh lagi. Seseorang dapat menginginkan kehancuran orang lain meskipun dirinya sendiri ikut mengalami kerugian.
Dalam kehidupan modern, perilaku tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk menyebarkan informasi palsu untuk menjatuhkan reputasi orang lain.
Masalahnya, orang yang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan semakin sulit merasa cukup.
Russell memberikan gambaran bahwa seseorang tidak selalu iri kepada orang yang berada sangat jauh di atasnya. Rasa iri justru sering muncul ketika melihat orang lain yang dianggap berada dalam kelompok atau posisi yang relatif sama tetapi memiliki sesuatu yang lebih.
Karena itu, salah satu cara menjaga kebahagiaan adalah berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur kehidupan sendiri.
Kesalahan memang perlu diakui. Namun, rasa bersalah yang dipelihara tanpa batas dapat berubah menjadi beban.
Seseorang yang terus dihantui kesalahan masa lalu dapat kehilangan kepercayaan diri, takut mengambil keputusan, dan selalu menghubungkan kejadian buruk dengan kesalahan yang pernah dilakukan.
Dalam perspektif agama, ketika seseorang menyadari telah melakukan dosa, jalan yang ditempuh adalah bertobat, memperbaiki diri, berusaha tidak mengulanginya, lalu melanjutkan kehidupan.
Kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan penjara.
Jika masa lalu terus digunakan untuk menghukum diri sendiri, seseorang justru kehilangan kesempatan untuk memperbaiki masa depan.
Perasaan seolah-olah selalu diperhatikan, dibicarakan, atau dijadikan sasaran orang lain dapat membuat kehidupan sangat melelahkan.
Russell membahas kecenderungan semacam ini sebagai persecution mania, yaitu anggapan bahwa orang lain selalu memiliki niat buruk, ingin menyakiti, menipu, atau membicarakan dirinya.
Salah satu akar persoalannya adalah cara pandang yang terlalu berpusat pada diri sendiri.
Padahal, kebanyakan orang juga sibuk dengan masalahnya masing-masing.
Empat prinsip sederhana dapat membantu menghindari pola pikir tersebut:
Kesadaran sederhana ini dapat membuat hidup terasa jauh lebih ringan.
Terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang lain juga dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan.
Kisah Nasruddin Hoja dan keledainya menggambarkan persoalan ini dengan sederhana. Ketika keputusan mengenai siapa yang harus menaiki keledai terus diubah demi memenuhi komentar orang lain, selalu saja ada pihak yang menganggap keputusan tersebut salah.
Pelajarannya jelas: jika hidup sepenuhnya dikendalikan opini publik, tidak akan pernah ada keputusan yang benar-benar memuaskan.
Pendapat orang lain tetap perlu dipertimbangkan, tetapi tidak semua pendapat harus dijadikan pedoman hidup.
Prinsip pribadi tetap diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus berubah hanya karena komentar lingkungan.
Russell tidak hanya menjelaskan penyebab ketidakbahagiaan. Ia juga membahas sumber-sumber kebahagiaan.
Semangat hidup muncul ketika seseorang memiliki minat, cita-cita, dan sesuatu yang ingin dicapai.
Kasih sayang juga memiliki peran besar. Mencintai dan dicintai dapat memberikan rasa aman serta alasan untuk terus menjalani kehidupan.
Keluarga dapat menjadi tempat bersandar ketika kehidupan menghadirkan tekanan.
Kehadiran keluarga juga membuat seseorang memiliki alasan untuk membangun sesuatu yang lebih panjang daripada kepentingan dirinya sendiri.
Pekerjaan bukan hanya berkaitan dengan pendapatan. Aktivitas bekerja juga dapat memberikan harga diri, struktur kehidupan, interaksi sosial, dan perlindungan dari kebosanan.
Namun, pekerjaan tidak boleh mengambil seluruh ruang kehidupan. Istirahat tetap diperlukan.
Membaca buku, menikmati pertandingan, berjalan-jalan, minum kopi, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai merupakan bagian penting dari kehidupan.
Russell memiliki gagasan terkenal bahwa waktu yang dinikmati untuk bersantai bukanlah waktu yang sia-sia.
Dengan kata lain, me time bukan pemborosan. Pikiran juga membutuhkan ruang untuk beristirahat.
Tidak semua hal berada dalam kendali manusia.
Ada hal yang dapat diusahakan dan ada pula hal yang harus diterima.
Di sinilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal menjadi penting. Manusia berusaha maksimal terhadap sesuatu yang masih dapat diubah, kemudian belajar menerima hasil yang berada di luar kendalinya.
Kecemasan sering muncul ketika seseorang berusaha mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan.
Mengetahui batas antara usaha dan penerimaan dapat membuat hidup menjadi lebih tenang.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak harus dimulai dari perubahan besar.
Mulailah dengan menghancurkan egoisme dan menerima kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Berhenti mengejar kesempurnaan. Tidak perlu terus-menerus mempertahankan citra bahwa diri sendiri selalu benar, kuat, atau berhasil.
Ketika gagal, tidak perlu mencari kambing hitam. Evaluasi kesalahan, ambil pelajaran, kemudian lanjutkan perjalanan.
Yang tidak kalah penting adalah mengurangi overthinking. Tidak semua persoalan harus dipikirkan secara berlebihan. Ada masalah yang memang membutuhkan solusi, tetapi ada pula masalah yang hanya membutuhkan waktu.
Hidup menjadi lebih ringan ketika seseorang mampu membedakan keduanya.
Kebahagiaan akhirnya bukan tentang memiliki kehidupan tanpa masalah. Kebahagiaan lebih dekat dengan kemampuan menjalani masalah tanpa membiarkan seluruh kehidupan dikendalikan olehnya.
Ada saat untuk serius. Ada saat untuk bekerja keras. Ada saat untuk memperbaiki kesalahan. Tetapi ada pula saat untuk berhenti sejenak, menikmati kehidupan, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.
(*)
FAQ:
Menurut pemikiran Bertrand Russell, kebahagiaan tidak dicapai secara instan. Kebahagiaan dibangun dengan mengurangi kecemasan, menghindari iri dan ketakutan berlebihan terhadap opini orang lain, memiliki minat dan kasih sayang, bekerja secara seimbang, serta menikmati waktu istirahat.
Beberapa penyebabnya antara lain rasa iri, rasa bersalah yang berlebihan, kecenderungan merasa selalu disakiti atau diperhatikan orang lain, serta terlalu takut terhadap opini publik.
Karena tidak semua persoalan membutuhkan pemikiran terus-menerus. Kecemasan yang tidak menghasilkan tindakan hanya menghabiskan energi mental dan membuat seseorang sulit menikmati kehidupan.
Ya. Istirahat membantu menjaga keseimbangan kehidupan. Pekerjaan memang penting, tetapi kehidupan yang hanya diisi pekerjaan tanpa waktu untuk beristirahat dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati hidup.
Alihkan perhatian dari keinginan menjatuhkan orang lain menjadi keinginan memperbaiki diri. Keberhasilan orang lain dapat dijadikan inspirasi dan tolok ukur untuk berkembang, bukan alasan untuk merasa tersiksa.
Tidak. Orang yang bijaksana mengetahui kapan sebuah persoalan perlu dipikirkan dan kapan harus dihentikan. Kemampuan menentukan prioritas merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang.
Ikhtiar mengajarkan manusia berusaha pada hal-hal yang masih dapat diubah, sedangkan tawakal membantu menerima hasil yang berada di luar kendali. Keseimbangan keduanya dapat mengurangi kecemasan terhadap sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan.
Bantu Kami terus Berkembang, dan
Jadikan Blogsia.eu.org sebagai Sumber Pilihan Google
Lantas, bagaimana cara menjadi bahagia menurut Bertrand Russell?
Kebahagiaan Tidak Datang Secara Instan
Orang yang sedang berada di titik terendah, mengalami tekanan berat, atau merasa hidupnya berantakan tentu tidak bisa langsung berubah menjadi bahagia hanya karena memutuskan untuk bahagia.
Kebahagiaan merupakan emosi yang dinamis. Ia dipengaruhi oleh kondisi dari dalam diri sekaligus keadaan di luar diri.
Russell berpandangan bahwa kebahagiaan tidak dapat dicapai secara langsung hanya dengan mencarinya. Ada hal-hal yang harus disingkirkan terlebih dahulu dan ada kondisi tertentu yang perlu dibangun.
Karena itu, bahagia membutuhkan proses dan usaha.
Hal ini juga dapat dikaitkan dengan konsep istikamah. Konsistensi dalam melakukan kebaikan pada dasarnya merupakan perjuangan melawan kebosanan. Seseorang tidak selalu memiliki motivasi yang sama setiap hari, tetapi tetap melangkah meskipun perasaan sedang tidak mendukung.
Jangan Menghabiskan Energi untuk Kecemasan yang Tidak Perlu
Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah kecemasan.
Manusia sering menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Masa depan dipenuhi kemungkinan buruk, sementara masalah kecil sehari-hari diperlakukan seolah-olah sama seriusnya dengan persoalan besar.
Padahal, setelah masalah tersebut dilewati, sering kali baru disadari bahwa kecemasan yang sebelumnya terasa sangat besar ternyata tidak terlalu penting.
Orang bijaksana, menurut Russell, mengetahui kapan harus berpikir dan kapan harus berhenti berpikir.
Berpikir tentu diperlukan jika ada tujuan yang jelas. Namun, ketika masalah tidak dapat diselesaikan saat itu juga, terus memikirkannya justru menguras energi.
Malam hari, misalnya, seharusnya digunakan untuk tidur. Pekerjaan memang penting, tetapi istirahat juga merupakan bagian penting dari kehidupan.
Hidup membutuhkan keseimbangan: ada waktu untuk beribadah, bekerja, belajar, berkumpul dengan keluarga, dan ada waktu untuk mengerem.
Iri dan Dengki Bisa Menghancurkan Kebahagiaan
Salah satu penyebab ketidakbahagiaan yang sering tidak disadari adalah rasa iri.
Menginginkan keberhasilan orang lain sebenarnya tidak selalu berarti iri. Jika keberhasilan seseorang justru membuat kita termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri, perasaan tersebut lebih tepat disebut sebagai dorongan atau tantangan.
Iri muncul ketika seseorang tidak rela melihat orang lain sukses, kaya, hebat, atau bahagia.
Fokusnya bukan lagi bagaimana memperbaiki diri, tetapi bagaimana membuat orang lain kehilangan keberuntungannya.
Dengki atau hasad bahkan lebih jauh lagi. Seseorang dapat menginginkan kehancuran orang lain meskipun dirinya sendiri ikut mengalami kerugian.
Dalam kehidupan modern, perilaku tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk menyebarkan informasi palsu untuk menjatuhkan reputasi orang lain.
Masalahnya, orang yang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan semakin sulit merasa cukup.
Russell memberikan gambaran bahwa seseorang tidak selalu iri kepada orang yang berada sangat jauh di atasnya. Rasa iri justru sering muncul ketika melihat orang lain yang dianggap berada dalam kelompok atau posisi yang relatif sama tetapi memiliki sesuatu yang lebih.
Karena itu, salah satu cara menjaga kebahagiaan adalah berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur kehidupan sendiri.
Jangan Terjebak Rasa Bersalah Masa Lalu
Kesalahan memang perlu diakui. Namun, rasa bersalah yang dipelihara tanpa batas dapat berubah menjadi beban.
Seseorang yang terus dihantui kesalahan masa lalu dapat kehilangan kepercayaan diri, takut mengambil keputusan, dan selalu menghubungkan kejadian buruk dengan kesalahan yang pernah dilakukan.
Dalam perspektif agama, ketika seseorang menyadari telah melakukan dosa, jalan yang ditempuh adalah bertobat, memperbaiki diri, berusaha tidak mengulanginya, lalu melanjutkan kehidupan.
Kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan penjara.
Jika masa lalu terus digunakan untuk menghukum diri sendiri, seseorang justru kehilangan kesempatan untuk memperbaiki masa depan.
Jangan Mengira Semua Orang Memikirkan Kita
Perasaan seolah-olah selalu diperhatikan, dibicarakan, atau dijadikan sasaran orang lain dapat membuat kehidupan sangat melelahkan.
Russell membahas kecenderungan semacam ini sebagai persecution mania, yaitu anggapan bahwa orang lain selalu memiliki niat buruk, ingin menyakiti, menipu, atau membicarakan dirinya.
Salah satu akar persoalannya adalah cara pandang yang terlalu berpusat pada diri sendiri.
Padahal, kebanyakan orang juga sibuk dengan masalahnya masing-masing.
Empat prinsip sederhana dapat membantu menghindari pola pikir tersebut:
- Sadari bahwa diri sendiri juga memiliki kekurangan.
- Jangan membesar-besarkan kelebihan diri.
- Jangan menganggap orang lain memperhatikan kita sebanyak kita memperhatikan diri sendiri.
- Jangan berasumsi bahwa orang lain sengaja menghabiskan waktunya untuk mencari cara menyakiti kita.
Kesadaran sederhana ini dapat membuat hidup terasa jauh lebih ringan.
Tidak Perlu Terlalu Takut pada Opini Publik
Terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang lain juga dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan.
Kisah Nasruddin Hoja dan keledainya menggambarkan persoalan ini dengan sederhana. Ketika keputusan mengenai siapa yang harus menaiki keledai terus diubah demi memenuhi komentar orang lain, selalu saja ada pihak yang menganggap keputusan tersebut salah.
Pelajarannya jelas: jika hidup sepenuhnya dikendalikan opini publik, tidak akan pernah ada keputusan yang benar-benar memuaskan.
Pendapat orang lain tetap perlu dipertimbangkan, tetapi tidak semua pendapat harus dijadikan pedoman hidup.
Prinsip pribadi tetap diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus berubah hanya karena komentar lingkungan.
Apa Saja Sumber Kebahagiaan Menurut Bertrand Russell?
Russell tidak hanya menjelaskan penyebab ketidakbahagiaan. Ia juga membahas sumber-sumber kebahagiaan.
1. Semangat dan Kasih Sayang
Semangat hidup muncul ketika seseorang memiliki minat, cita-cita, dan sesuatu yang ingin dicapai.
Kasih sayang juga memiliki peran besar. Mencintai dan dicintai dapat memberikan rasa aman serta alasan untuk terus menjalani kehidupan.
2. Keluarga
Keluarga dapat menjadi tempat bersandar ketika kehidupan menghadirkan tekanan.
Kehadiran keluarga juga membuat seseorang memiliki alasan untuk membangun sesuatu yang lebih panjang daripada kepentingan dirinya sendiri.
3. Pekerjaan
Pekerjaan bukan hanya berkaitan dengan pendapatan. Aktivitas bekerja juga dapat memberikan harga diri, struktur kehidupan, interaksi sosial, dan perlindungan dari kebosanan.
Namun, pekerjaan tidak boleh mengambil seluruh ruang kehidupan. Istirahat tetap diperlukan.
4. Kepentingan di Luar Rutinitas
Membaca buku, menikmati pertandingan, berjalan-jalan, minum kopi, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai merupakan bagian penting dari kehidupan.
Russell memiliki gagasan terkenal bahwa waktu yang dinikmati untuk bersantai bukanlah waktu yang sia-sia.
Dengan kata lain, me time bukan pemborosan. Pikiran juga membutuhkan ruang untuk beristirahat.
Ikhtiar dan Tawakal: Berusaha pada yang Bisa Diubah
Tidak semua hal berada dalam kendali manusia.
Ada hal yang dapat diusahakan dan ada pula hal yang harus diterima.
Di sinilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal menjadi penting. Manusia berusaha maksimal terhadap sesuatu yang masih dapat diubah, kemudian belajar menerima hasil yang berada di luar kendalinya.
Kecemasan sering muncul ketika seseorang berusaha mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan.
Mengetahui batas antara usaha dan penerimaan dapat membuat hidup menjadi lebih tenang.
Cara Menjadi Lebih Bahagia dalam Kehidupan Sehari-hari
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak harus dimulai dari perubahan besar.
Mulailah dengan menghancurkan egoisme dan menerima kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Berhenti mengejar kesempurnaan. Tidak perlu terus-menerus mempertahankan citra bahwa diri sendiri selalu benar, kuat, atau berhasil.
Ketika gagal, tidak perlu mencari kambing hitam. Evaluasi kesalahan, ambil pelajaran, kemudian lanjutkan perjalanan.
Yang tidak kalah penting adalah mengurangi overthinking. Tidak semua persoalan harus dipikirkan secara berlebihan. Ada masalah yang memang membutuhkan solusi, tetapi ada pula masalah yang hanya membutuhkan waktu.
Hidup menjadi lebih ringan ketika seseorang mampu membedakan keduanya.
Kebahagiaan akhirnya bukan tentang memiliki kehidupan tanpa masalah. Kebahagiaan lebih dekat dengan kemampuan menjalani masalah tanpa membiarkan seluruh kehidupan dikendalikan olehnya.
Ada saat untuk serius. Ada saat untuk bekerja keras. Ada saat untuk memperbaiki kesalahan. Tetapi ada pula saat untuk berhenti sejenak, menikmati kehidupan, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.
(*)
FAQ:
1. Apa cara menjadi bahagia menurut Bertrand Russell?
Menurut pemikiran Bertrand Russell, kebahagiaan tidak dicapai secara instan. Kebahagiaan dibangun dengan mengurangi kecemasan, menghindari iri dan ketakutan berlebihan terhadap opini orang lain, memiliki minat dan kasih sayang, bekerja secara seimbang, serta menikmati waktu istirahat.
2. Apa penyebab utama ketidakbahagiaan menurut Russell?
Beberapa penyebabnya antara lain rasa iri, rasa bersalah yang berlebihan, kecenderungan merasa selalu disakiti atau diperhatikan orang lain, serta terlalu takut terhadap opini publik.
3. Mengapa terlalu banyak berpikir dapat menghilangkan kebahagiaan?
Karena tidak semua persoalan membutuhkan pemikiran terus-menerus. Kecemasan yang tidak menghasilkan tindakan hanya menghabiskan energi mental dan membuat seseorang sulit menikmati kehidupan.
4. Apakah istirahat termasuk bagian dari kebahagiaan?
Ya. Istirahat membantu menjaga keseimbangan kehidupan. Pekerjaan memang penting, tetapi kehidupan yang hanya diisi pekerjaan tanpa waktu untuk beristirahat dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati hidup.
5. Bagaimana cara menghadapi rasa iri kepada orang lain?
Alihkan perhatian dari keinginan menjatuhkan orang lain menjadi keinginan memperbaiki diri. Keberhasilan orang lain dapat dijadikan inspirasi dan tolok ukur untuk berkembang, bukan alasan untuk merasa tersiksa.
6. Apakah semua hal harus dipikirkan serius?
Tidak. Orang yang bijaksana mengetahui kapan sebuah persoalan perlu dipikirkan dan kapan harus dihentikan. Kemampuan menentukan prioritas merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang.
7. Apa hubungan ikhtiar dan tawakal dengan kebahagiaan?
Ikhtiar mengajarkan manusia berusaha pada hal-hal yang masih dapat diubah, sedangkan tawakal membantu menerima hasil yang berada di luar kendali. Keseimbangan keduanya dapat mengurangi kecemasan terhadap sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan.

