Cerpen Oleh: WS Djambak
Dimuat di Jawa Pos
KERIUHAN itu semakin lama berubah menjadi rusuh tatkala yang dipanggil gajah sudah jengah, kemudian menyeruduk kawannya serupa gajah betul bertingkah terpental dan menangis. Andai tidak lekas dilerai, mungkin mereka tidak jadi main sepak bola, melainkan sepak bola gajah.
"Terima kasih sudah membawakan mereka baju bola. Musim Piala Dunia begini semua orang memang demam bola, tak terkecuali anak-anak. Orang tua mereka tidak punya uang, kalaupun punya, tentu bukan untuk membeli baju bola," ujar batin sambil menyodorkan kopi ke arahku. Gestur tangannya menyilakan aku untuk menyeruputnya sebagaimana ia sudah terlebih dahulu melakukannya.
Sambil mengangguk, aku tersenyum tipis, kuambil kopi dari tangan batin dan kuteguk. Memang kopinya enak dan wanginya harum. Di luar tak lagi kudengar anak-anak berantem. Mereka sudah kembali bermain bersama.
Batin beringsut dan beranjak ke dalam sebuah kamar. Terdengar ia membongkar sesuatu, dan tak lama kemudian keluar membawa benda yang aku tak tahu apa nama dan fungsinya. Ia mengangguk mengisyaratkanku untuk memegang benda tersebut.
Kuambil dari tangannya dan kuamati benda serupa cawan, atau mungkin ember, atau mungkin tas? Aku tidak tahu persis.
"Itu namanya timo. Untuk menampung madu."
Aku mengangguk-angguk. Tanganku meraba-raba teksturnya. Kasar dan agak berbau anyir, sekaligus manis madu.
"Kulit, Pak?" Aku meletakkan buru-buru, serupa membanting.
Ia terkekeh. Seperti menangkap kekhawatiranku, ia menjawab dengan penuh wibawa, "itu dari kulit kerbau, bukan babi."
Aku lega meskipun cukup salah tingkah ketika ia bisa menebak apa yang kupikirkan. Untung di rumah itu tak ada cermin sehingga aku tidak bisa melihat bagaimana bodohnya ekspresiku.
Ia kembali menyodorkan sesuatu lagi ke hadapanku. Sebuah bambu yang dirakit sedemikian rupa. Sebagai orang luar tentu aku tidak paham, dan tanpa menungguku bertanya lebih jauh, ia memperagakan cara menggunakannya.
"Ini gegalung galo. Untuk menjepit ubi."
Kameraku dalam mode standby. Kuatur diafragma dan pencahayaan, serta shutter. Kuambil foto dari berbagai sudut. Batin tak luput dari bidikanku. Kuperhatikan juga timer dan indikator baterai pada recorder yang sejak tadi menyala, masih aman.
"Ehem... Jadi, apakah masyarakat di sini masih hidup dengan tradisi seperti ini, Pak Batin?"
Batin diam sejenak, kemudian menjawab pelan, "Seperti yang Bapak lihat sendiri, hidup kami sudah modern, tapi kami miskin. Sedang dulu ketika dunia luar menganggap kami primitif, kami tidak berkekurangan."
***
Siang itu motor yang kutumpangi meraung-raung melewati jalan tanah berdebu. Mataku perih, udara pengap, dan cuaca panas. Sangat panas. Di sini matahari seperti umbi, yang beranak pinak pada setiap ubun-ubun manusia.
Apong, lelaki paruh baya yang ditugasi oleh batin menemaniku, mengemudikan motor serampangan. Gundukan tanah padat, lubang, batuan dihantamnya saja serupa gajah yang melanyau apa pun di hadapan mereka. Kameraku beberapa kali memotret pohon-pohon akasia yang berbaris serupa janisari mengepung permukiman Sakai.
Di hadapan kami, sebuah pos berpenjaga dengan pagar tinggi mengitari tempat itu mengesankan kami semakin terisolasi dari dunia luar.
"Gate!" bentaknya.
"Dua belas, mau ke Gate 7," jawab Apong.
Si penjaga dengan wajah arogannya tak menjawab, melainkan menatap tajam dan hendak merampas kamera yang melingkar di leherku. Tentu saja aku menepis tangannya. Kutunjukkan kartu pers dengan harapan senapan dalam genggamannya mengendur, ternyata aku salah. Ia semakin ganas. Katanya, di sini area swasta dan tidak boleh sembarangan orang masuk, apalagi wartawan.
"Jangan kau ganggu dia. Dia tamu batin, mau meliput kami mengambil madu."
Setelah mendengar Apong berkata begitu, barulah ia mau membukakan pintu pagar, meskipun sudut matanya masih mendelik kepadaku. Apong kembali memacu sepeda motornya.
"Ketat juga ya, Bang?"
"Ya, begitulah di sini," jawabnya sambil terbahak, yang tertelan bunyi knalpot yang berisik dan bunyi pantatku yang membentur jok serupa papan.
"Tadi nomor apa, Bang?"
"Yang mana?"
"Yang abang bilang di pos."
"Oh, itu kode wilayah."
"Untuk apa?"
"Mereka, orang perusahaan yang menguasai konsesi di sini, mengkotak-ngotakkan wilayah dengan istilah gate. Misal, kampung asli kami, Kampung Sibirandang, dinamai mereka Gate 12. Lalu, makam tua leluhur kami berada di Gate 41. Dan tempat kita mencari madu di Gate 7."
"Jadi, kalau mau pergi ke mana pun, termasuk ziarah, harus melewati pos jaga?"
"Begitulah. Ke mana pun, selagi masih kawasan konsesi, harus melewati pos jaga."
Ia tertawa, namun tawanya kosong. Begitu pun bunyi motor yang tadinya memekak tak lagi kudengar. Pikiranku hanyut ke sebuah peta yang kupelajari beberapa hari yang lalu sebelum ke sini.
Di sebuah kabupaten di Riau, tempat di mana permukiman masyarakat asli suku Sakai terkepung wilayah konsesi sebuah perusahaan raksasa yang memproduksi kertas. Mereka hidup di sana mengandalkan produksi pertanian yang tak lagi seberapa. Sumber air tempat mereka minum yang semula jernih sudah berubah keruh dan berbau busuk, dijejali limbah yang (entah) dengan sengaja dibuang ke sana.
Menolak punah, mereka terpaksa mengikuti pola modernisasi; menyekolahkan anak-anak dari hasil memburuh dan bertani di ladang konsesi—yang dulunya lahan milik nenek moyang mereka jauh sebelum negara merdeka.
Jika beruntung, anak mereka bisa sampai kuliah dengan beasiswa dari CSR perusahaan. Kalau beruntung lagi, akan direkrut bekerja di perusahaan setelah tamat, dan jika tidak, akan bermain proposal untuk mencari dana atas nama masyarakat adat.
Ketika kutanya mengenai pengakuan pemerintah untuk menetapkan status mereka sebagai masyarakat adat, batin hanya tertawa. Matanya memandang jauh ke luar. Suaranya bergetar, "Pengakuan buat apa? Tak ada gunanya."
"Tapi dengan status pengakuan itu, masyarakat Pak Batin bisa mengelola hutan."
Ia tergelak, demikian juga Apong yang juga ada di sana.
"Hutan mana akan kami kelola?"
Ia gemetar, sambil melanjutkan, "Lagi pula, harusnya kami yang mengakui keberadaan negara, bukan sebaliknya. Kami sudah ada sebelum negara ini merdeka."
Aku mencondongkan kepalaku menyimak hingga bisa mencium aroma kopi menguar dari kerongkongan batin.
"Bapak orang yang kesekian yang datang meliput ke sini. Tapi kami tetap saja masih begini-begini."
Apong tertawa sebelum kemudian menambahkan, "Perusahaan memang memberi kami uang, Bang. Kadang kami diterima menjadi buruh, tapi kami dibuat tidak betah."
"Maksudnya?"
"Bagi mereka, kami hanya sebagai objek yang menerima CSR sebagai penggugur kewajiban bagi mereka."
"Kami, suku Sakai, tidak mengenal kata konflik. Tapi, oleh mereka, kami dibuatkan konflik. Dikonflikkan dengan polisi, pemerintah, dan gajah. Lucu, bukan? Padahal, sejak nenek moyang kami keluar dari Pagaruyung sana, tidak pernah ada konflik dengan gajah. Bahkan kami menghormatinya sebagai datuk. Datuk Godang."
"Lalu, bagaimana konflik itu bisa terjadi, Pak Batin?"
Apong mengerem mendadak, yang membuat hidungku membentur belakang kepalanya dan percakapan imajiner di kepalaku buyar semua.
"Kita sudah sampai," ujarnya cengengesan sambil mengusap-usap kepala belakangnya. Apong memang periang. Pernah kutanya kenapa ia suka tertawa, bahkan dengan segala penderitaan hidup yang dialami mereka.
"Memang, apa lagi yang bisa kami lakukan selain menertawakan hidup, Bang?" jawabnya lagi-lagi sambil tertawa.
Dengan cekatan Apong mempersiapkan perlengkapan untuk mengambil madu. Ia diam, (barangkali) berdoa, dan mengambil beberapa genggam rumput yang tidak kutahu namanya, kemudian menyalakan api. Dalam kecepatan yang tidak dinalar manusia kota sepertiku, tiba-tiba saja Apong sudah berada di dahan tinggi. Asap dari rumput itu diarahkan ke sarang lebah. Ajaib, lebah-lebah terbang dengan tertib meninggalkan sarangnya. Aku teringat beberapa waktu silam, asap jugalah yang membuatku meninggalkan provinsi ini.
Di atas pohon, tanpa mengandalkan kewaspadaan, ia menjulurkan kakinya dan mulai mengemas madu ke dalam timo. Kepiawaian Apong memanjat sambil mengusap lebah mengingatkanku akan Macaca sp., yang kupotret di sebuah taman nasional beberapa bulan silam dan menjadi nomine anugerah Guardians.
Kupanjat sebuah pohon yang tidak begitu tinggi. Dari balik rimbunnya pohon akasia, kufoto Apong, juga deretan akasia di kejauhan sana, dan sinar matahari sore yang menyelinap dari celah daun. ISO sudah kuatur hingga memperoleh efek yang kuat. Hampir tidak ada adegan yang luput dari bidikanku.
Tiba-tiba kudengar bunyi berdentum. Pohon tumbang, burung terbang, kancil berhamburan.
Gajah.
Di pohon sialang, kuperhatikan Apong tak lagi tertawa. Ia mematung memeluk pohon sambil tersenyum kecut. Ya, berada di atas pohon tinggi ketika berjumpa gajah adalah ide yang sangat buruk, kau tahu? Tapi, kabur ketika berjumpa gajah adalah cara tercepat bunuh diri.
Aku berdoa kepada Tuhan yang menguasai satwa dan sejenisnya agar gajah-gajah itu tidak menyadari kehadiran kami. Lututku lemas, napas kutahan. Beberapa ekor gajah berukuran sedang menumbangkan apa saja yang menghalanginya. Aku teringat kisah pasukan Abrahah ketika menaklukkan Makkah. Namun di sini, tak ada ababil dan batu neraka untuk mengeluarkan kami dari suasana serupa di neraka ini. Yang ada hanya burung-burung liar yang sudah beterbangan entah ke mana.
Dalam kondisi mencekam begini, kusempatkan membidik gajah-gajah itu dari atas pohon, sekitar empat puluh lima derajat dari kepalanya. Jarak kami barangkali sekitar seratusan meter. Kamera ku-zoom in, dan dapat beberapa foto yang bagus. Kucek hasil foto tadi. Ku-zoom berulang kali.
Kutemukan satu detail kecil di punggung gajah yang kufoto. Sebuah cat berwarna biru serupa nomor tujuh. Kufoto kembali dengan zoom yang lebih besar.
"Konflik kami dengan gajah tidak terjadi begitu saja. Kalau kubilang gajah itu dipelihara perusahaan, apa Bapak percaya?" Pertanyaan batin yang tak sempat kujawab terngiang di telingaku.
Ponselku tiba-tiba berdering—aku, Apong, dan gajah-gajah itu sama-sama kaget. Mata kami bertumbukan.
Salah seekor gajah bernomor punggung itu kemudian berlari menuju pohon tempatku memanjat. Dalam kecemasan, ingatanku terbang pada bocah yang kuberikan baju bola bernomor punggung yang sama —yang menyeruduk teman-temannya yang meneriakinya gajah. (*)
---
PROFIL PENULIS
WS Djambak
Saat ini bermukim di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis: puisi, cerpen, esai, dan novel. Tahun 2023 terpilih sebagai emerging writer pada Baliqe Writers Festival. Menjabat sebagai peneliti madya di Laboratorium Sastra Mazhabpanam.
"Gajah... gajah!" teriak anak-anak yang lain sambil berebutan mengambil baju pada tumpukan kain dalam karung yang kubawa. Seorang anak bertubuh tambun mengenakan baju bola bertuliskan Ronaldo tersenyum padaku. Baju itu terlihat pas di tubuhnya. Ia menyalamiku seraya mengucapkan terima kasih, kemudian berlari kembali menuju kawan-kawannya sambil melakukan selebrasi gol ala Ronaldo dan mengangkat kedua tangannya di samping kuping serupa gerakan takbiratulihram, tapi dugaanku, gara-gara gerakan itu dan tubuhnya yang tambun, semakin meyakinkan julukan gajah yang diteriakkan kawan-kawannya semakin pantas untuknya.
KERIUHAN itu semakin lama berubah menjadi rusuh tatkala yang dipanggil gajah sudah jengah, kemudian menyeruduk kawannya serupa gajah betul bertingkah terpental dan menangis. Andai tidak lekas dilerai, mungkin mereka tidak jadi main sepak bola, melainkan sepak bola gajah.
"Terima kasih sudah membawakan mereka baju bola. Musim Piala Dunia begini semua orang memang demam bola, tak terkecuali anak-anak. Orang tua mereka tidak punya uang, kalaupun punya, tentu bukan untuk membeli baju bola," ujar batin sambil menyodorkan kopi ke arahku. Gestur tangannya menyilakan aku untuk menyeruputnya sebagaimana ia sudah terlebih dahulu melakukannya.
Sambil mengangguk, aku tersenyum tipis, kuambil kopi dari tangan batin dan kuteguk. Memang kopinya enak dan wanginya harum. Di luar tak lagi kudengar anak-anak berantem. Mereka sudah kembali bermain bersama.
Batin beringsut dan beranjak ke dalam sebuah kamar. Terdengar ia membongkar sesuatu, dan tak lama kemudian keluar membawa benda yang aku tak tahu apa nama dan fungsinya. Ia mengangguk mengisyaratkanku untuk memegang benda tersebut.
Kuambil dari tangannya dan kuamati benda serupa cawan, atau mungkin ember, atau mungkin tas? Aku tidak tahu persis.
"Itu namanya timo. Untuk menampung madu."
Aku mengangguk-angguk. Tanganku meraba-raba teksturnya. Kasar dan agak berbau anyir, sekaligus manis madu.
"Kulit, Pak?" Aku meletakkan buru-buru, serupa membanting.
Ia terkekeh. Seperti menangkap kekhawatiranku, ia menjawab dengan penuh wibawa, "itu dari kulit kerbau, bukan babi."
Aku lega meskipun cukup salah tingkah ketika ia bisa menebak apa yang kupikirkan. Untung di rumah itu tak ada cermin sehingga aku tidak bisa melihat bagaimana bodohnya ekspresiku.
Ia kembali menyodorkan sesuatu lagi ke hadapanku. Sebuah bambu yang dirakit sedemikian rupa. Sebagai orang luar tentu aku tidak paham, dan tanpa menungguku bertanya lebih jauh, ia memperagakan cara menggunakannya.
"Ini gegalung galo. Untuk menjepit ubi."
Kameraku dalam mode standby. Kuatur diafragma dan pencahayaan, serta shutter. Kuambil foto dari berbagai sudut. Batin tak luput dari bidikanku. Kuperhatikan juga timer dan indikator baterai pada recorder yang sejak tadi menyala, masih aman.
"Ehem... Jadi, apakah masyarakat di sini masih hidup dengan tradisi seperti ini, Pak Batin?"
Batin diam sejenak, kemudian menjawab pelan, "Seperti yang Bapak lihat sendiri, hidup kami sudah modern, tapi kami miskin. Sedang dulu ketika dunia luar menganggap kami primitif, kami tidak berkekurangan."
***
Siang itu motor yang kutumpangi meraung-raung melewati jalan tanah berdebu. Mataku perih, udara pengap, dan cuaca panas. Sangat panas. Di sini matahari seperti umbi, yang beranak pinak pada setiap ubun-ubun manusia.
Apong, lelaki paruh baya yang ditugasi oleh batin menemaniku, mengemudikan motor serampangan. Gundukan tanah padat, lubang, batuan dihantamnya saja serupa gajah yang melanyau apa pun di hadapan mereka. Kameraku beberapa kali memotret pohon-pohon akasia yang berbaris serupa janisari mengepung permukiman Sakai.
Di hadapan kami, sebuah pos berpenjaga dengan pagar tinggi mengitari tempat itu mengesankan kami semakin terisolasi dari dunia luar.
"Gate!" bentaknya.
"Dua belas, mau ke Gate 7," jawab Apong.
Si penjaga dengan wajah arogannya tak menjawab, melainkan menatap tajam dan hendak merampas kamera yang melingkar di leherku. Tentu saja aku menepis tangannya. Kutunjukkan kartu pers dengan harapan senapan dalam genggamannya mengendur, ternyata aku salah. Ia semakin ganas. Katanya, di sini area swasta dan tidak boleh sembarangan orang masuk, apalagi wartawan.
"Jangan kau ganggu dia. Dia tamu batin, mau meliput kami mengambil madu."
Setelah mendengar Apong berkata begitu, barulah ia mau membukakan pintu pagar, meskipun sudut matanya masih mendelik kepadaku. Apong kembali memacu sepeda motornya.
"Ketat juga ya, Bang?"
"Ya, begitulah di sini," jawabnya sambil terbahak, yang tertelan bunyi knalpot yang berisik dan bunyi pantatku yang membentur jok serupa papan.
"Tadi nomor apa, Bang?"
"Yang mana?"
"Yang abang bilang di pos."
"Oh, itu kode wilayah."
"Untuk apa?"
"Mereka, orang perusahaan yang menguasai konsesi di sini, mengkotak-ngotakkan wilayah dengan istilah gate. Misal, kampung asli kami, Kampung Sibirandang, dinamai mereka Gate 12. Lalu, makam tua leluhur kami berada di Gate 41. Dan tempat kita mencari madu di Gate 7."
"Jadi, kalau mau pergi ke mana pun, termasuk ziarah, harus melewati pos jaga?"
"Begitulah. Ke mana pun, selagi masih kawasan konsesi, harus melewati pos jaga."
Ia tertawa, namun tawanya kosong. Begitu pun bunyi motor yang tadinya memekak tak lagi kudengar. Pikiranku hanyut ke sebuah peta yang kupelajari beberapa hari yang lalu sebelum ke sini.
Di sebuah kabupaten di Riau, tempat di mana permukiman masyarakat asli suku Sakai terkepung wilayah konsesi sebuah perusahaan raksasa yang memproduksi kertas. Mereka hidup di sana mengandalkan produksi pertanian yang tak lagi seberapa. Sumber air tempat mereka minum yang semula jernih sudah berubah keruh dan berbau busuk, dijejali limbah yang (entah) dengan sengaja dibuang ke sana.
Menolak punah, mereka terpaksa mengikuti pola modernisasi; menyekolahkan anak-anak dari hasil memburuh dan bertani di ladang konsesi—yang dulunya lahan milik nenek moyang mereka jauh sebelum negara merdeka.
Jika beruntung, anak mereka bisa sampai kuliah dengan beasiswa dari CSR perusahaan. Kalau beruntung lagi, akan direkrut bekerja di perusahaan setelah tamat, dan jika tidak, akan bermain proposal untuk mencari dana atas nama masyarakat adat.
Ketika kutanya mengenai pengakuan pemerintah untuk menetapkan status mereka sebagai masyarakat adat, batin hanya tertawa. Matanya memandang jauh ke luar. Suaranya bergetar, "Pengakuan buat apa? Tak ada gunanya."
"Tapi dengan status pengakuan itu, masyarakat Pak Batin bisa mengelola hutan."
Ia tergelak, demikian juga Apong yang juga ada di sana.
"Hutan mana akan kami kelola?"
Ia gemetar, sambil melanjutkan, "Lagi pula, harusnya kami yang mengakui keberadaan negara, bukan sebaliknya. Kami sudah ada sebelum negara ini merdeka."
Aku mencondongkan kepalaku menyimak hingga bisa mencium aroma kopi menguar dari kerongkongan batin.
"Bapak orang yang kesekian yang datang meliput ke sini. Tapi kami tetap saja masih begini-begini."
Apong tertawa sebelum kemudian menambahkan, "Perusahaan memang memberi kami uang, Bang. Kadang kami diterima menjadi buruh, tapi kami dibuat tidak betah."
"Maksudnya?"
"Bagi mereka, kami hanya sebagai objek yang menerima CSR sebagai penggugur kewajiban bagi mereka."
"Kami, suku Sakai, tidak mengenal kata konflik. Tapi, oleh mereka, kami dibuatkan konflik. Dikonflikkan dengan polisi, pemerintah, dan gajah. Lucu, bukan? Padahal, sejak nenek moyang kami keluar dari Pagaruyung sana, tidak pernah ada konflik dengan gajah. Bahkan kami menghormatinya sebagai datuk. Datuk Godang."
"Lalu, bagaimana konflik itu bisa terjadi, Pak Batin?"
Apong mengerem mendadak, yang membuat hidungku membentur belakang kepalanya dan percakapan imajiner di kepalaku buyar semua.
"Kita sudah sampai," ujarnya cengengesan sambil mengusap-usap kepala belakangnya. Apong memang periang. Pernah kutanya kenapa ia suka tertawa, bahkan dengan segala penderitaan hidup yang dialami mereka.
"Memang, apa lagi yang bisa kami lakukan selain menertawakan hidup, Bang?" jawabnya lagi-lagi sambil tertawa.
Dengan cekatan Apong mempersiapkan perlengkapan untuk mengambil madu. Ia diam, (barangkali) berdoa, dan mengambil beberapa genggam rumput yang tidak kutahu namanya, kemudian menyalakan api. Dalam kecepatan yang tidak dinalar manusia kota sepertiku, tiba-tiba saja Apong sudah berada di dahan tinggi. Asap dari rumput itu diarahkan ke sarang lebah. Ajaib, lebah-lebah terbang dengan tertib meninggalkan sarangnya. Aku teringat beberapa waktu silam, asap jugalah yang membuatku meninggalkan provinsi ini.
Di atas pohon, tanpa mengandalkan kewaspadaan, ia menjulurkan kakinya dan mulai mengemas madu ke dalam timo. Kepiawaian Apong memanjat sambil mengusap lebah mengingatkanku akan Macaca sp., yang kupotret di sebuah taman nasional beberapa bulan silam dan menjadi nomine anugerah Guardians.
Kupanjat sebuah pohon yang tidak begitu tinggi. Dari balik rimbunnya pohon akasia, kufoto Apong, juga deretan akasia di kejauhan sana, dan sinar matahari sore yang menyelinap dari celah daun. ISO sudah kuatur hingga memperoleh efek yang kuat. Hampir tidak ada adegan yang luput dari bidikanku.
Tiba-tiba kudengar bunyi berdentum. Pohon tumbang, burung terbang, kancil berhamburan.
Gajah.
Di pohon sialang, kuperhatikan Apong tak lagi tertawa. Ia mematung memeluk pohon sambil tersenyum kecut. Ya, berada di atas pohon tinggi ketika berjumpa gajah adalah ide yang sangat buruk, kau tahu? Tapi, kabur ketika berjumpa gajah adalah cara tercepat bunuh diri.
Aku berdoa kepada Tuhan yang menguasai satwa dan sejenisnya agar gajah-gajah itu tidak menyadari kehadiran kami. Lututku lemas, napas kutahan. Beberapa ekor gajah berukuran sedang menumbangkan apa saja yang menghalanginya. Aku teringat kisah pasukan Abrahah ketika menaklukkan Makkah. Namun di sini, tak ada ababil dan batu neraka untuk mengeluarkan kami dari suasana serupa di neraka ini. Yang ada hanya burung-burung liar yang sudah beterbangan entah ke mana.
Dalam kondisi mencekam begini, kusempatkan membidik gajah-gajah itu dari atas pohon, sekitar empat puluh lima derajat dari kepalanya. Jarak kami barangkali sekitar seratusan meter. Kamera ku-zoom in, dan dapat beberapa foto yang bagus. Kucek hasil foto tadi. Ku-zoom berulang kali.
Kutemukan satu detail kecil di punggung gajah yang kufoto. Sebuah cat berwarna biru serupa nomor tujuh. Kufoto kembali dengan zoom yang lebih besar.
"Konflik kami dengan gajah tidak terjadi begitu saja. Kalau kubilang gajah itu dipelihara perusahaan, apa Bapak percaya?" Pertanyaan batin yang tak sempat kujawab terngiang di telingaku.
Ponselku tiba-tiba berdering—aku, Apong, dan gajah-gajah itu sama-sama kaget. Mata kami bertumbukan.
Salah seekor gajah bernomor punggung itu kemudian berlari menuju pohon tempatku memanjat. Dalam kecemasan, ingatanku terbang pada bocah yang kuberikan baju bola bernomor punggung yang sama —yang menyeruduk teman-temannya yang meneriakinya gajah. (*)
---
PROFIL PENULIS
WS Djambak
Saat ini bermukim di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis: puisi, cerpen, esai, dan novel. Tahun 2023 terpilih sebagai emerging writer pada Baliqe Writers Festival. Menjabat sebagai peneliti madya di Laboratorium Sastra Mazhabpanam.
Thanks for reading: Cerpen NOMOR PUNGGUNG Oleh WS Djambak, Sorry, my English is bad:)
