Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
HEADLINE
Memuat Headline...
HEADLINE
KRONIKA
Memuat artikel...
Lihat Selengkapnya →
IKUTI SEPUTAR

UPDATE GALERI OTOMOTIF TERBARU

Galeri Otomotif
Memuat artikel...

Guru Pakai AI, Murid Disuruh Menulis Manual, Adilkah?

Guru Pakai AI, Murid Disuruh Menulis Manual, Adilkah?



BLOGSIA - Zaman bergerak begitu cepat.

Teknologi datang silih berganti, membawa perubahan hampir di semua bidang kehidupan. Termasuk pendidikan.

Hari ini, kita hidup di tengah era kecerdasan buatan atau AI. Hanya dengan beberapa kalimat perintah, sebuah materi pembelajaran bisa dibuat dalam hitungan detik.

Rangkuman bisa dibuat.

Soal bisa dibuat.

Presentasi bisa disusun.

Bahkan bahan ajar yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dipersiapkan, kini dapat dihasilkan dengan bantuan AI dalam hitungan detik.

Dan fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang salah.

Teknologi memang seharusnya membantu manusia bekerja lebih cepat dan efisien.

Di YouTube, kita juga bisa melihat begitu banyak tutorial yang membahas bagaimana guru menggunakan AI untuk membuat media pembelajaran.

Ada yang membuat modul.

Ada yang membuat soal.

Ada yang membuat presentasi.

Ada pula yang membuat berbagai macam materi pembelajaran dengan bantuan prompt tertentu.

Semua terlihat praktis.

Semua terlihat modern.

Tetapi kemudian muncul sebuah pertanyaan sederhana.

Kalau guru sudah menggunakan AI untuk membantu pekerjaannya, lalu bagaimana dengan murid?

Di satu sisi, murid masih sering diminta menulis dengan tangan.

Membaca buku.

Mencatat materi.

Mengerjakan tugas secara manual.

Bahkan terkadang, menulis ulang materi yang sebenarnya bisa ditemukan dalam hitungan detik melalui perangkat digital.

Tentu, bukan berarti kegiatan-kegiatan tersebut tidak penting.

Justru sebaliknya.

Membaca buku, menulis, merangkum, dan mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri tetap memiliki nilai penting bagi proses belajar.

Ada proses berpikir di sana.

Ada latihan konsentrasi.

Ada kemampuan memahami informasi.

Ada kemampuan menyusun gagasan.

Dan yang paling penting, ada proses membangun kemampuan berpikir tanpa selalu bergantung kepada mesin.

Tetapi di sinilah persoalannya.

Apakah prinsip yang sama juga berlaku untuk semua pihak dalam pendidikan?

Jika murid dituntut untuk tidak bergantung kepada AI agar kemampuan berpikirnya berkembang, bukankah guru juga perlu menunjukkan bahwa dirinya mampu menggunakan kemampuan berpikir tersebut?

Bukan berarti guru harus menolak teknologi.

Bukan pula berarti guru harus kembali sepenuhnya ke cara-cara lama.

Namun, mungkin ada sesuatu yang perlu diseimbangkan.

Guru menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti pemikiran.

Murid menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sebagai pengganti proses belajar.

Sebab kalau semuanya diserahkan kepada AI, pertanyaannya bukan lagi siapa yang pintar.

Tetapi siapa yang paling pandai memberikan prompt.

Dan kalau setiap persoalan bisa langsung diserahkan kepada AI, lama-kelamaan manusia bisa kehilangan kebiasaan untuk mencari, membaca, menganalisis, mencoba, lalu menemukan jawabannya sendiri.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita melihat kembali peran buku dalam pendidikan.

Apakah guru masih membawa buku ke dalam kelas?

Apakah murid masih diarahkan untuk membaca sumber asli?

Apakah mereka masih diajak berdiskusi berdasarkan apa yang mereka baca?

Atau jangan-jangan, buku hanya menjadi bahan mentah yang kemudian diolah oleh AI menjadi materi pembelajaran?

Digitalisasi memang tidak mungkin dihentikan.

Dan sebenarnya kita tidak perlu menghentikannya.

AI juga bukan musuh pendidikan.

Teknologi justru bisa menjadi alat yang sangat membantu jika digunakan dengan tepat.

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara adil, arif, dan bijaksana.

Guru boleh menggunakan AI.

Murid pun suatu saat akan menggunakannya.

Tetapi keduanya tetap harus memahami bahwa pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban.

Pendidikan adalah proses belajar bagaimana menemukan jawaban.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan...

"Bolehkah guru menggunakan AI sementara murid tidak?"

Melainkan...

"Bagaimana guru dan murid menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri?"

Sebab di tengah dunia yang semakin pintar karena teknologi, kemampuan manusia untuk berpikir justru jangan sampai menjadi semakin malas.

Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar pendidikan di era AI.

Bukan bagaimana kita menghindari teknologi.

Tetapi bagaimana kita tetap menjadi manusia yang berpikir, meskipun teknologi bisa berpikir untuk kita.


(*)
Bantu Kami terus Berkembang, dan Jadikan Blogsia.eu.org sebagai Sumber Pilihan Google
Galeri Ponsel Selengkapnya >
Memuat foto pilihan...
Crypto
Memuat artikel...
Lihat Selengkapnya →

Edukasi

Indeks ›

Tekno

Indeks ›