- Bahasa jurnalistik memiliki karakteristik khusus yang wajib dipahami oleh setiap jurnalis pemula agar tulisan mudah dimengerti.
- Menulis berita yang baik menuntut efisiensi kata, kelogisan berpikir, serta pemilihan diksi yang tepat dan akurat.
- Menggunakan kalimat aktif dan menyederhanakan istilah menjadi kunci agar pesan berita tersampaikan ke semua kalangan masyarakat.
BlogSIA - Menulis sebuah berita yang memikat dan mudah dicerna memerlukan keterampilan khusus dalam mengolah kata.
Bagi jurnalis yang baru meniti karier, menguasai bahasa jurnalistik adalah langkah awal yang krusial untuk menghasilkan produk pers yang berkualitas.
Bahasa jurnalistik sendiri dirancang agar tulisan tampil ringkas, padat, logis, dan langsung menyasar pada inti informasi yang ingin disampaikan.
Tujuan utamanya adalah memastikan pembaca dari berbagai latar belakang intelektual dapat menangkap isi berita tanpa hambatan.
Berikut adalah langkah dan karakteristik penting dalam menulis berita yang efektif untuk wartawan pemula:
Menerapkan Prinsip Ringkas dan Hemat Kata
Wartawan harus cermat memangkas kata-kata yang tidak perlu agar kalimat menjadi lebih efisien. Karakteristik ini mengutamakan penggunaan kata yang lebih pendek dan sederhana, namun tetap mempertahankan makna aslinya.
Memilih Kata yang Sederhana dan Umum
Sebuah berita akan dikonsumsi oleh masyarakat luas dari berbagai lapisan sosial. Oleh karena itu, penggunaan istilah yang terlalu rumit atau tinggi harus dihindari agar orang awam pun bisa langsung paham.
Menulis secara Lugas dan Langsung ke Inti
Gaya penulisan berita harus bersifat straight to the point dan tidak bertele-tele. Jurnalis disarankan menghindari metafora yang bermakna ganda agar tidak menimbulkan kebingungan bagi pembaca.
Memastikan Kelogisan Kalimat
Setiap susunan kata dan istilah yang dirangkai dalam teks berita wajib masuk akal. Penalaran yang logis dalam kalimat akan mencegah terjadinya salah tafsir dari pihak pembaca.
Mengutamakan Penggunaan Kalimat Aktif
Struktur kalimat aktif jauh lebih disukai dalam dunia jurnalistik karena sifatnya yang dinamis dan mudah dipahami. Sebaliknya, kalimat pasif cenderung lambat dan berisiko mengaburkan subjek pelaku.
Menentukan Diksi dan Pilihan Kata yang Tepat
Ketepatan memilih kata sangat menentukan akurasi informasi yang sampai ke tangan publik. Penggunaan kata harus disesuaikan dengan konteks subjek dan situasi yang sedang diberitakan.
***
Melalui penerapan seluruh poin tersebut, tulisan yang dihasilkan akan terasa lebih hidup dan bertenaga.
Sebagai contoh konkret dalam hal meringkas kata, jurnalis sebaiknya memilih kata "kini" daripada "sekarang".
Sebagai contoh konkret dalam hal meringkas kata, jurnalis sebaiknya memilih kata "kini" daripada "sekarang".
Padanan lain yang lebih efisien adalah menggunakan kata "menangkap" untuk menggantikan frasa "melakukan penangkapan".
Begitu pula dengan frasa "mengenakan seragam" yang sebaiknya disederhanakan menjadi kata "berseragam".
Pemangkasan juga berlaku pada elemen keterangan waktu yang berlebihan dalam sebuah kalimat berita.
Frasa seperti "terjadi pada tahun 2019 lalu" sebaiknya diubah menjadi lebih padat, yaitu "terjadi pada 2019".
Kata "tahun" dan "lalu" aman untuk dihapus karena hilangnya kedua kata tersebut sama sekali tidak mengubah esensi makna.
Sementara itu, kelugasan dalam berita bisa diuji dari bagaimana jurnalis memilih kata untuk menggambarkan sebuah kematian.
Begitu pula dengan frasa "mengenakan seragam" yang sebaiknya disederhanakan menjadi kata "berseragam".
Pemangkasan juga berlaku pada elemen keterangan waktu yang berlebihan dalam sebuah kalimat berita.
Frasa seperti "terjadi pada tahun 2019 lalu" sebaiknya diubah menjadi lebih padat, yaitu "terjadi pada 2019".
Kata "tahun" dan "lalu" aman untuk dihapus karena hilangnya kedua kata tersebut sama sekali tidak mengubah esensi makna.
Sementara itu, kelugasan dalam berita bisa diuji dari bagaimana jurnalis memilih kata untuk menggambarkan sebuah kematian.
Wartawan yang profesional akan langsung memakai kata tewas, wafat, atau meninggal dunia.
Penggunaan frasa puitis seperti "menghembuskan napas terakhir" sangat tidak disarankan karena tidak sesuai dengan sifat berita.
Urusan kelogisan kalimat juga sering menjadi jebakan tersendiri bagi para pemburu berita di lapangan.
Contoh kekeliruan yang sering dijumpai adalah penulisan frasa "Kemerdekaan RI ke-75" yang secara logika kurang tepat.
Kalimat yang benar dan masuk akal adalah "HUT ke-75 Kemerdekaan RI", karena yang berulang ke-75 adalah hari ulang tahunnya.
Untuk penerapan kalimat aktif, struktur "Ibu membuatkan nasi goreng untuk Budi" jauh lebih efektif untuk digunakan.
Struktur tersebut lebih dipilih dibandingkan format pasif seperti "Budi dibuatkan nasi goreng oleh ibu".
Terakhir, ketepatan diksi sangat bergantung pada subjek yang sedang diceritakan dalam narasi berita.
Kata meninggal dunia, wafat, gugur, atau tewas memiliki peruntukan tersendiri yang tidak boleh tertukar.
Dengan memahami seluruh dasar penulisan ini, wartawan pemula dapat menyajikan berita yang tidak hanya informatif tetapi juga nyaman dibaca.
(*)
Thanks for reading: Tips Menulis Berita yang Benar untuk Wartawan Pemula agar Tulisan Efektif, Sorry, my English is bad:)
