Cepen Jawa Pos Sebelum Pulang, Oleh Puspa Seruni

Cepen Jawa Pos Sebelum Pulang, Oleh Puspa Seruni
Cepen Jawa Pos Sebelum Pulang, Oleh Puspa Seruni


Cepen Jawa Pos Sebelum Pulang
Oleh: Puspa Seruni
Dimuat di Jawa Pos 14/03/2026

Derit rel yang terdengar nyaring bersaing dengan gema takbir menjadi penanda kereta mengalami masalah dan akan menjebak penumpang di antara dua stasiun pada tengah malam. Suasana semakin terasa gelap ketika lampu utama tiba-tiba padam, menyisakan lampu kuning redup dan berkedip-kedip di ujung gerbong. Penumpang yang tersisa menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik, kecuali Fey, seorang gadis berambut pendek yang duduk dekat pintu kereta. Dia menarik napas lega seolah separuh beban hidupnya terangkat.

DI TENGAH keterkejutan, seorang petugas muncul membawa senter. Dia menyampaikan pemberitahuan bahwa listrik untuk sementara dipadamkan. Katanya, ada kesalahan pengelolaan sinyal, ditambah lagi hujan deras yang mengguyur sejak dua hari sebelumnya menyebabkan beberapa kerikil penopang rel hilang dan bantalan rel rusak sehingga membutuhkan beberapa perbaikan. Dia meminta kami untuk tenang dan menunggu sampai perbaikan selesai dalam waktu 15 sampai 30 menit.

"Waw, sunyi," seru Fey seolah kereta yang berhenti mendadak adalah kabar baik. Dia mengabaikan suara beduk yang terdengar sayup-sayup dari luar. Fey yang semula sibuk menggambar pada sebuah buku sketsa tiba-tiba mengangkat wajah dan mengedarkan pandangan. Matanya bersirobok dengan mata Amar. Fey melempar senyum. Amar membalas dengan anggukan.

"Kenapa?" tanya Amar membuka percakapan. Meski tidak suka berbincang dengan orang asing dalam sebuah kendaraan, seruan Fey memancing keinginan Amar untuk mengobrol.

"Apanya?" tanya Fey dengan dahi berkerut.

Mereka duduk berhadapan, dipisahkan oleh lorong gerbong yang lengang. Ada empat orang penumpang dalam gerbong: satu orang perempuan berjaket denim yang duduk di sudut kanan, satu orang laki-laki berjaket kulit di sudut lain, dan Amar, seorang lelaki berkacamata yang duduk dengan lesu di hadapan Fey.

"Ada apa dengan kesunyian?" Amar mengulang pertanyaannya.

"Tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada piring pecah. Biasalah orang tua," Fey mengangkat kedua bahunya. "Kalau terjebak sampai besok, aku bisa terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan," lanjutnya sambil tersenyum.

Meski begitu, Amar dapat merasakan kegetiran itu. Dari remang cahaya lampu kuning yang menerobos ke tengah gerbong, Amar dapat menebak usia Fey lima tahun di bawahnya.

"Pelukis butuh tempat sunyi, ya?" tanya Amar lagi.

"Aku bukan pelukis. Itu tidak membuatku kaya." Dia tersenyum kecut. Dari balik kardigan birunya, sebuah lanyard perusahaan start-up menyembul.

"Kau sendiri, kenapa selalu naik kereta terakhir?" tanya Fey tiba-tiba. Amar terkejut, tidak pernah menduga Fey memperhatikannya.

"Kau memperhatikanku?" tanyanya sambil mengulum senyum.

Fey tertawa melihat perubahan wajah Amar yang tersipu malu. "Hei, aku menghitung sudah sepuluh malam kita duduk berhadapan begini. Kau selalu tampak..." Fey menghentikan kalimatnya, memiringkan kepala, mencermati Amar.

"Apa?"

"Itu," Fey menunjuk sambil tertawa ringan. "Wajahmu selalu kusut. Seperti banyak beban," lanjut Fey dengan wajah jenaka lalu tertawa. Amar terdiam sebentar kemudian ikut tertawa.

"Kau benar." Dia menghela napas panjang, mencoba mengurai kekusutan pikiran yang nyaris dua minggu ini ditanggung sendirian.

"Aku dipecat. Padahal aku sudah berutang untuk persiapan Lebaran. Padahal dua bulan lagi istriku melahirkan." Suara Amar lirih. Sejak menerima surat pemecatan, Amar belum membicarakannya dengan siapa pun, termasuk Sheila, istrinya. Di hadapan Fey, rahasia itu mengalir. Amar merasa lega. Pikirnya, cerita itu tidak ada artinya dan akan dilupakan begitu mereka berpisah. Bukankah mereka hanya dua orang asing yang dipertemukan sementara?

"Dia bisa memahamimu, kan? Maksudku, dua orang yang saling mencintai tentu bisa melalui hal berat bersama-sama, kan?" tanyanya sambil menatap Amar dengan mata menyipit.

"Hidup tak selalu berjalan seperti itu. Aku terpaksa membohonginya. Berpura-pura tetap bekerja, lembur sampai larut demi mengejar promosi. Bahkan di malam Lebaran begini." Amar mengusap wajahnya.

Fey mengangguk, mencoba memahami. Hening beberapa saat. Keduanya seolah tenggelam dalam gulungan pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja, gerimis kembali turun. Titik-titik air hujan jatuh di kaca jendela kereta.

"Kita sama. Lanyard ini aku buat di Jalan Pramuka. Tak sampai 50 ribu. Yah, setidaknya orang tuaku tidak malu bertemu keluargaku besok." Fey tersenyum. Ada duka terpancar dari kilatan matanya. Dia teringat kejadian saat ayahnya merobek semua sketsa miliknya.

"Mau jadi apa, hah? Kerja yang benar! Hidup perlu uang!" teriak ayahnya. Sobekan kertas sketsa terhambur memenuhi lantai kamar. Dia sudah berusaha menyembunyikan semuanya, menempatkan buku sketsa dalam lemari yang terkunci. Akan tetapi, satu hari setelah wisuda, ayahnya menerobos masuk kamar dan mendapati Fey sedang menggambar.

Di seberang bangku, Amar tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia membayangkan duka yang terlihat dari sorot mata Fey adalah duka Sheila saat tahu dirinya sudah berbohong selama sepuluh hari terakhir. Kabar itu tentu akan menyakiti Sheila dan mempermalukan Amar di hadapan keluarga besar istrinya. Ketika surat pemecatan itu diterima Amar, yang terbayang di pelupuk matanya adalah kedua bola mata Sheila yang teduh, yang sedang bercahaya menanti kelahiran bayi perempuannya. Awal bulan lalu, Sheila menyerahkan catatan kecil berisi daftar barang yang akan dibeli untuk persiapan lahiran. Sambil meletakkan telapak tangan Amar pada permukaan perutnya yang bundar, Sheila terus bercerita tentang rencana-rencananya menyambut bayi itu.

Kala itu, Amar sama sekali tak ada firasat apa pun. Pekerjaannya berjalan baik. Bahkan beberapa kawan memberi tahu namanya masuk dalam kandidat karyawan yang akan mendapat promosi. Amar menjadi andalan tim mereka dalam bekerja. Dia menjadi leader beberapa proyek. Akan tetapi, berita burung menguap seperti embun ketika HRD memanggil dan memberinya surat pemecatan.

"Jadi, kita sama-sama pembohong?" suara Fey menyeret kesadaran Amar kembali ke dalam gerbong. Amar tersenyum kecut.

"Mungkin seharusnya kita jujur. Sampai kapan terus menghindar untuk pulang?" tanya Amar lirih, seolah itu adalah gumam bagi dirinya sendiri. "Seharusnya masalah ini menjadi penguji kekuatan hubungan kami," lanjutnya.

Fey menatap Amar, menunggu kelanjutan kalimat-kalimatnya. Tak ada lanjutan apa pun, Amar kembali membisu.

"Kejujuran itu milikmu, bukan untukku," ucap Fey tiba-tiba. Meski gerbong itu gelap, sesekali kilatan cahaya dari langit menelusup masuk. Amar dapat melihat ada kilau pada pelupuk mata gadis di hadapannya. Ada genangan air mata yang siap tumpah seperti langit yang malam itu menumpahkan hujan.

"Aku anak pertama, pemangku martabat keluarga. Mereka tidak akan peduli sulitnya mencari kerja. Yang mereka tahu, aku sarjana dan aku harus bekerja." Fey mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan napas yang panjang, tanpa jeda, dan penuh penekanan. "Kehidupan ini terlalu keras," lanjutnya.

Amar tak menanggapi, dia menunggu Fey meluapkan air bah di dadanya.

"Di sisi lain, mereka memaklumi ayah yang menganggur. Ibu bekerja keras seharian, sementara suaminya tidur sampai siang. Aku lelah melihatnya menampar ibu hanya karena ibu telat menyuguhkan kopi. Aku bosan mendengar suara cangkir dilempar hanya karena upah ibu tak cukup membelikannya rokok Surya kesukaannya. Dia menjadikan rumah kami seperti neraka. Aku ingin mengusirnya, tapi ibu selalu membela. Aku bisa saja pergi meninggalkan ibu, tapi aku tidak akan sanggup melihat ibu pontang-panting sendirian mencari uang." Suara Fey bersaing dengan deras hujan di luar. Napasnya tersengal.

Gelap semakin pekat. Suara takbir nyaris tidak terdengar lagi. Entah sudah berapa lama kereta itu berhenti, tetapi belum ada pengumuman kapan perbaikan rel kereta akan selesai. Amar dan Fey seolah tak peduli. Mereka larut dalam pertukaran kesedihan.

"Apa kau pernah berbicara tentang ini pada ibumu?" tanya Amar di antara deru suara hujan. Fey menggeleng pelan. Air matanya luruh, bergulir pelan menuruni pipinya menciptakan garis cahaya di wajahnya yang bulat.

"Ibu terlalu mencintainya dan aku terlalu mencintai ibu. Sedangkan laki-laki itu tak mencintai apa pun selain keegoisannya sendiri." Fey menghentikan kalimatnya, menarik napas kemudian melanjutkan. "Kata ibu, laki-laki itu bukan pemalas, dia hanya menunggu kesempatan datang."

Fey tergelak sendirian. Di hadapannya Amar menatap dengan iba. Suara tawa Fey sempat membuat perempuan yang tertidur di sudut gerbong membuka mata dan melirik sinis ke arah mereka.

"Sudah 21 tahun, dan mereka membiarkan laki-laki itu hanya menunggu." Fey kembali tertawa, seolah-olah tragedi hidupnya adalah sebuah komedi. "Sedangkan padaku, mereka begitu keras. Aku dipaksa bekerja kantoran. Padahal mereka tahu aku bisa menjual keahlianku. Lihat ini, lihat." Fey menunjukkan dua buku sketsa miliknya yang penuh dengan gambar-gambar wajah. "Tapi apa? Tak ada artinya," napasnya dengan suara gemetar.

Tanpa sadar Amar membayangkan, itu adalah suara Sheila yang sedang marah ketika dia mengabarkan pemecatan itu. Pasti Sheila akan meluapkan kekecewaan dan kemarahannya dengan berteriak di depan wajahnya. Mungkin keluarga besarnya juga akan mencaci Amar. Laki-laki itu membayangkan Sheila akan melemparinya dengan gelas berisi air putih yang biasanya disiapkan ketika dia pulang bekerja, lalu keesokan paginya koper berisi pakaian-pakaiannya telah siap tepat sebelum mereka berangkat untuk salat Idul Fitri.

Tiba-tiba lampu utama gerbong menyala. Amar melihat Fey menyeka air mata. Saat itulah Amar sadar, gadis di hadapannya memiliki mata indah seperti milik Sheila. Entah bagaimana, dia merasa Fey adalah sosok yang sudah lama dia kenal. Ada keinginannya untuk mendekat, meraih kepala Fey ke dadanya, dan menenangkannya. Namun, Amar tidak melakukan itu. Keduanya duduk di bangku masing-masing, saling memandang.

Sebuah pengumuman dari mikrofon mengabarkan bahwa perbaikan sudah selesai dan kereta akan melanjutkan perjalanan. Fey dan Amar masih terdiam. Saling bertukar pandang dengan dada yang hancur diiringi deru kereta yang mulai melaju kencang.

Tak berapa lama, pengumuman kembali datang. Nama pemberhentian berikutnya disebut. Amar beranjak dan bersiap turun.

"Apa kita bisa bertemu lagi nanti?" tanya Fey mencegah langkah Amar.

"Entahlah, tapi aku harap, besok kita berani untuk jujur. Kau harus bisa menegakkan kepala di hadapan mereka, tidak ada yang salah dengan menjadi pelukis," ucapnya pelan.

Kereta melambat. Amar mendekat ke arah pintu. Ketika pintu kereta terbuka, Amar menoleh menatap gadis yang belum dia ketahui namanya, yang sedang menunduk menatap lantai kereta dan memeluk buku sketsa di dadanya. ()

(*)


Jembrana, 9 Maret 2026

Thanks for reading: Cepen Jawa Pos Sebelum Pulang, Oleh Puspa Seruni, Sorry, my English is bad:)

Getting Info...

Posting Komentar

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.